| Mi, Lezat Bergizi tetapi Rawan Formalin!
|
 |
 |
|
| Ditulis oleh Administrator |
Tuesday, 13 November 2007
Oleh Prof. DR. Made Astawan, Ahli Teknologi Pangan dan Gizi
Mi basah rawan terhadap penambahan formalin dan boraks. Zat kimia ini dapat berdampak buruk bagi kesehatan.
Sayangnya, kandungan formalin dan boraks hanya bisa diketahui melalui pemeriksaan laboratorium. Mi
pertama kali dibuat dan berkembang di Cina. Teknologi pembuatan mi
disebarkan oleh Marcopolo ke Italia, hingga ke seluruh daratan Eropa.
Kini mi populer di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Mi yang
beredar di Indonesia terdiri dari empat jenis, yaitu mi mentah, mi
basah, mi kering, dan mi instan. Keempat jenis tersebut mempunyal pasar
sendiri-sendiri, dengan jumlah permintaan yang semakin meningkat dari
waktu ke waktu. |
| Terakhir diperbaharui ( Tuesday, 13 November 2007 ) |
| Baca selanjutnya... |
|
|
|
| Awas, Toksin ada di sekitar kita
|
 |
 |
|
| Ditulis oleh Administrator |
Tuesday, 13 November 2007
Oleh: republika
"
Jika timbunan toksin tidak dibersihkan, maka akan mengakibatkan
iritasi, peradangan pada jaringan, dan menurunkan fungsi normal dari
setiap organ tubuh "
Disadari atau tidak, dalam kehidupan
sehari-hari banyak sekali kuman, racun (toksin) berada disekitar kita
dan kita hidup bersama dengan mereka. "Ribuan hingga jutaan toksin
berada di sekeliling kita dan siap melawan sistem kekebalan ubuh kita,"
kata dr. M Rusmin, alumnus Fakultas Kedokteran, Yayasan Rumah Sakit
Islam (YARSI), Jakarta. |
| Terakhir diperbaharui ( Tuesday, 13 November 2007 ) |
| Baca selanjutnya... |
|
|
|
| Menyusui Pada Satu Jam Pertama
|
 |
 |
|
| Ditulis oleh Administrator |
Tuesday, 13 November 2007
Oleh: Th. Irawati
Judul diatas merupakan tema Pekan (1-7 Agustus) ASI Sedunia tahun 2007. Sudah
tidak dapat dpungkiri lagi bahwa ASI merupakan mukjizat dari Tuhan yang
diberikan kepada umatnya melalui ibu yang menyusui bayinya dengan ASI.
ASI adalah satu jenis makanan yang mencukupi seluruh unsur kebutuhan
bayi, baik fisik, psikologi, sosial maupun spiritual. Dan pemberian ASI
selama 1 jam pertama dalam kehidupannya dapat menyelamatkan i juta
nyawa bayi. |
| Terakhir diperbaharui ( Tuesday, 13 November 2007 ) |
| Baca selanjutnya... |
|
|
|
|
|
| Ditulis oleh Administrator |
Thursday, 08 November 2007
Perkembangan Kesiapsiagaan Status Awas Gunung Kelud 01 Nov 2007 www.depkes.go.id

Laporan
Perkembangan Kesiapsiagaan Status AWAS Gunung Kelud di Kab.Kediri dan
Kab.Blitar Prov. Jawa Timur, berdasarkan informasi dari PPK Regional
Jawa Timur, Dinkes Kab. Kediri, Dinkes Kab. Blitar dan Staf PPK Depkes
yang berada di lokasi sampai tanggal 28 Oktober 2007 pukul 20.00 WIB
sebagai berikut: |
| Terakhir diperbaharui ( Saturday, 10 November 2007 ) |
| Baca selanjutnya... |
|
|
|
| 5% Kematian Balita Disebabkan Penyakit Yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi
|
 |
 |
|
|
|
| Ditulis oleh Administrator |
Monday, 30 May 2005
02 Nov 2007
Penyakit
yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I) seperti TBC, Diphteri,
Pertusis, Campak, Tetanus, Polio, dan Hepatitis B merupakan salah satu
penyebab kematian anak di negara-negara berkembang termasuk Indonesia.
Diperkirakan 1,7 juta kematian pada anak atau 5% pada balita di
Indonesia adalah akibat PD3I. Agar target nasional dan global untuk
mencapai eradikasi, eliminasi dan reduksi terhadap PD3I dapat dicapai,
cakupan imunisasi harus dipertahankan tinggi dan merata sampai mencapai
tingkat Population Immunity (kekebalan masyarakat) yang tinggi.
Kegagalan untuk menjaga tingkat cakupan imunisasi yang tinggi dan
merata dapat menimbulkan Kejadian Luar Biasa (KLB) PD3I. |
| Terakhir diperbaharui ( Thursday, 08 November 2007 ) |
| Baca selanjutnya... |
|
|
|
|
|
| Kasus Flu Burung Asal Tangerang, Meninggal Dunia
|
 |
 |
|
|
|
| Ditulis oleh Administrator |
Tuesday, 07 December 2004
ES (P, 30 th) warga Jl. Rasuna Said RT 04/06 Cipete, Kec. Pinang, Kab.
Tangerang, Propinsi Banten yang dinyatakan telah positif Flu Burung
(H5N1), meninggal Sabtu, 3 November 2007 pukul 13.30 WIB, di RS
Persahabatan.Dengan demikian, di Propinsi Banten terdapat 18
kasus positif flu burung, 15 orang diantaranya meninggal dunia. Secara
kumulatif kasus Flu Burung di Indonesia mencapai 112 orang, 90 orang
diantaranya meninggal dunia. Angka kematiannya (Case Fatality Rate =
CFR ) 80,35%. |
| Terakhir diperbaharui ( Thursday, 08 November 2007 ) |
| Baca selanjutnya... |
|
|
|
|
|
|